Minggu, 05 Juli 2020

Struktur Kurikulum MTs Sesuai KMA 184 Tahun 2019

Struktur kurikulum pada Madrasah Tsanawiyah, sesuai dengan KMA Nomor 184 tahun 2019, sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan struktur kurikulum MTs yang berlaku sebelumnya. Namun sesuai regulasi terbaru ini, pemerintah memberikan peluang kepada madrasah untuk melakukan inovasi terhadap struktur kurikulum sesuai kebutuhan madrasah.

Inovasi kurikulum pada struktur kurikulum di Madrasah Tsanawiyah adalah kewenangan setiap madrasah untuk menambah, mengurangi, dan merelokasi beban belajar hingga maksimal enam jam per minggu.

Struktur Kurikulum MTs Sesuai KMA 184 Tahun 2019

Madrasah Tsanawiyah juga berhak untuk menyelenggarakan mata pelajaran muatan lokal hingga sebanyak-banyaknya tiga mata pelajaran muatan lokal dengan jumlah penambahan beban belajar maksimal enam jam per minggu.

Struktur kurikulum yang mulai berlaku pada tahun pelajaran 2020/2021 ini diatur melalui Keputusan Menteri Agama Nomor 184 Tahun 2019 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum Pada Madrasah. Selain itu dalam penyusunannya madrasah dapat berpedoman pada Keputusan Dirjen Pendidikan Islam Nomor 6981 Tahun 2019 tentang Juknis Penyusunan Kurikulum tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs).

Sebagaimana dalam regulasi sebelumnya, muatan kurikulum di Madrasah Tsanawiyah dikelompokkan dalam dua kelompok. Yaitu muatan nasional dan muatan lokal.

Muatan nasional mencakup mata pelajaran dan alokasi waktu yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) maupun Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 184 Tahun 2019.

Mata Pelajaran tersebut dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok A dan kelompok B. Kelompok A adalah kelompok mata pelajaran yang muatan dan acuannya dikembangkan oleh pusat. Pada jenjang Madrasah Tsanawiyah, mapel kelompok A meliputi:
  • Pendidikan Agama Islam
    • a. Al-Qur’an Hadis 
    • b. Akidah Akhlak 
    • c. Fikih 
    • d. Sejarah Kebudayaan Islam 
  • Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 
  • Bahasa Indonesia 
  • Bahasa Arab 
  • Matematika 
  • Ilmu Pengetahuan Alam 
  • Ilmu Pengetahuan Sosial 
  • Bahasa Inggris

Mata Pelajaran Kelompok B  merupakan kelompok mata pelajaran yang muatan dan acuannya dikembangkan oleh pusat dan dapat dilengkapi dengan muatan/konten lokal. Pada jenjang Madrasah Tsanawiyah, mapel kelompok B meliputi:
  • Seni Budaya
  • Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 
  • Prakarya dan / atau Informasi
  • Muatan Lokal* 

Sedang muatan lokal merupakan mata pelajaran  yang berisi muatan dan proses pembelajaran tentang potensi dan keunikan lokal. Muatan lokal menjadi kekhasan atau keunggulan madrasah. MTs dapat menyelenggarakan hingga tiga jenis mata pelajaran muatan lokal dengan jumlah maksimal enam jam pelajaran.

Muatan lokal di Madrasah Tsanawiyah dapat berupa, Tahfidz, Tilawah, Seni Islam, Riset atau penelitian ilmiah, Bahasa/literasi, Teknologi, Pendalaman Sains, Kekhasan madrasah (aswaja, kemuhammadiyahan, dll), Kekhasan madrasah khusus dalam naungan pondok pesantren seperti balaghah, nahwu sharaf serta hal-hal yang menjadi ciri khas madrasah yang bersangkutan.

Baca : Struktur Kurikulum MI Berdasarkan KMA 184 Tahun 2019

Struktur Kurikulum Madrasah Tsanawiyah


Berdasarkan KMA Nomor 184 Tahun 2019 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum Pada Madrasah, struktur kurikulum pada Madrasah Tsanawiyah adalah sebagaii berikut:

Mata Pelajaran Alokasi Waktu Perpekan
Kelompok A VII VIII IX
1 Pendidikan Agama   Islam
a. Al-Qur’an Hadis 2 2 2
b. Akidah Akhlak 2 2 2
c. Fikih 2 2 2
d.   Sejarah Kebudayaan Islam 2 2 2
2 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 3 3 3
3 Bahasa Indonesia 6 6 6
4 Bahasa Arab 3 3 3
5 Matematika 5 5 5
6 Ilmu Pengetahuan Alam 5 5 5
7 Ilmu Pengetahuan Sosial 4 4 4
8 Bahasa Inggris 4 4 4
Kelompok B
1 Seni Budaya 3 3 3
2 Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 3 3 3
3 Prakarya dan / atau Informasi 2 2 2
3 Muatan Lokal* - - -
Jumlah Alokasi Waktu Perminggu 46 46 46

Keterangan:
  1. Mata pelajaran Kelompok A merupakan kelompok mata pelajaran yang muatan dan acuannya dikembangkan oleh pusat.
  2. Mata pelajaran Kelompok B merupakan kelompok mata pelajaran yang muatan dan acuannya dikembangkan oleh pusat dan dapat dilengkapi dengan muatan/konten lokal.
  3. Mata pelajaran Kelompok B dapat berupa mata pelajaran muatan lokal yang berdiri sendiri.
  4. Satu jam pelajaran beban belajar tatap muka adalah 40 (empat puluh) menit.
  5. Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan dapat memuat konten lokal.
  6. Untuk Mata Pelajaran Prakarya dan/atau Mata Pelajaran Informatika, satuan pendidikan menyelenggarakan salah satu atau kedua mata pelajaran tersebut. Peserta didik dapat memilih salah satu mata pelajaran yaitu Mata Pelajaran Prakarya atau Mata Pelajaran Informatika yang disediakan oleh satuan pendidikan.
  7. Muatan Lokal dapat memuat Bahasa Daerah dan/atau kearifan lokal atau mata pelajaran lain yang menjadi kekhasan/keunggulan madrasah terdiri atas maksimal 3 (tiga) mata pelajaran dengan jumlah maksimal 6 (enam) jam pelajaran

Struktur Kurikulum MTs Sesuai KMA 184 Tahun 2019

Baca Juga:

Pengembangan Implementasi Kurikulum MTs


Pada KMA Nomor 184 Tahun 2019 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum Pada Madrasah, pada Bab III, Madrasah Tsanawiyah dapat melakukan pengembangan implementasi kurikulum.

Hal ini diatur juga dalam Keputusan Dirjen Pendidikan Islam Nomor 6981 Tahun 2019 tentang Juknis Penyusunan Kurikulum tingkat Madrasah Tsanawiyah, Bab III.

Ketentuan Pengembangan struktur kurikulum terdiri atas ketentuan atas mapel muatan lokal, penambahan jam (beban belajar), hingga relokasi jam pelajaran.

Untuk mata pelajaran muatan lokal, madrasah dapat menyelenggarakan minimal satu mapel muatan lokal dan maksimal tiga mapel muatan lokal. Alokasi waktu untuk setaip mapel, minimal dua jam pelajaran perminggu (JP) dan maksimal enam jam pelajaran.

Untuk penambahan beban belajar, madrasah dapat menambahkan hingga maksimal enam jam pelajaran pada kelompok A dan kelompok B.

Sedangkan pada relokasi, Madrasah Tsanawiyah dapat merelokasi  jam pelajaran kelompok B ke kelompok A (mengurangi jam kelompok B dan menambahkan ke kelompok A) dengan syarat setiap mata pelajaran pada kelompok B tidak boleh kurang dari 2 jam pelajaran.

Berikut adalah contoh hasil pengembangan struktur kurikulum pada Madrasah Tsanawiyah.

Mata Pelajaran Alokasi Waktu Perpekan KET
Kelompok A VII VIII IX
1 Pendidikan Agama Islam
a. Al-Qur’an Hadis 2 2 2
b. Akidah Akhlak 2 2 2
c. Fikih 2 2 2
d. Sejarah Kebudayaan Islam 2 2 2
2 Pendidikan   Pancasila dan Kewarganegaraan 3 3 3
3 Bahasa Indonesia 6 6 6
4 Bahasa Arab 3 3 3
5 Matematika 6 6 6 + 1 JP
6 Ilmu Pengetahuan   Alam 6 6 6 + 1 JP
7 Ilmu Pengetahuan   Sosial 4 4 4
8 Bahasa Inggris 4 4 4
Kelompok B
1 Seni   Budaya 2 2 2 - 1 JP
2 PendidikanJasmani, Olahraga dan Kesehatan 2 2 2 - 1 JP
3 Prakarya dan / atau Informasi 2 2 2
3 Muatan Lokal* - - -
a. Bahasa Daerah 2 2 2 + 2 JP
b. Ke-NU-an / Aswaja 2 2 2 + 2 JP
c. Penelitian Ilmiah 2 2 2 + 2 JP
Jumlah Alokasi Waktu Perminggu 52 52 52
Jumlah Penambahan 6 6 6

Struktur Kurikulum MTs Sesuai KMA 184 Tahun 2019

Baca : KMA 183 Tahun 2019 - Kurikulum PAI & Bahasa Arab

Sebagaimana Ayo Madrasah kutib dari KMA Nomor 184 Tahun 2019 Bab III Poin A, pengembangan struktuk kurikulum yang dilakukan madrasah dimuat dalam Dokumen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) madrasah bersangkutan dan mendapatkan persetujuan dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten/ Kota.

Penambahan beban belajar hingga sebanyak-banyaknya enam jam pelajaran tersebut didasarkan pada pertimbangan kebutuhan peserta didik, akademik, sosial, budaya, dan ketersediaan waktu. Tujuannya demi meningkatkan mutu pendidikan, bukan karena pertimbangan kekurangan atau kelebihan guru. Apalagi sekedar untuk pemenuhan beban kerja guru bersertifikat pendidik.

Untuk lebih memahami terkait struktur kurikulum di Madrasah Tsanawiyah, silakan cermati KMA Nomor 184 Tahun 2019 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum Pada Madrasah dan SK Dirjen Pendis Nomor 6981 Tahun 2019 tentang Juknis Penyusunan Kurikulum tingkat Madrasah Tsanawiyah.

Kedua regulasi tersebut dapat diunduh di artikel Ayo Madrasah terdahulu yaitu:

Sehingga struktur kurikulum di Madrasah Tsanawiyah yang bersangkutan akan sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan mampu mengakomodasi kekhasan madrasah masing-masing. Tanpa melanggar regulasi yang telah ditetapkan.

Sabtu, 04 Juli 2020

Struktur Kurikulum MI Berdasarkan KMA 184 Tahun 2019

Dengan diberlakukannya KMA Nomor 184 Tahun 2019, maka struktur kurikulum pada Madrasah Ibtidaiyah mengalami perubahan. Perubahan struktur kurikulum MI ini juga diatur melalui SK Dirjen Pendis Nomor 6980 Tahun 2019 tentang Juknis Penyusunan Kurikulum tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI).

Meskipun dibanding struktur kurikulum MI sebelumnya tidak terlalu berbeda. Namun terdapat beberapa hal dan ketentuan yang bisa membuatnya menjadi lebih berbeda.

Struktur Kurikulum MI Berdasarkan KMA 184 Tahun 2019

Implementasi kurikulum berdasarkan KMA Nomor 184 Tahun 2019 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum Pada Madrasah dan SK Dirjen Pendis Nomor 6980 Tahun 2019 tentang Juknis Penyusunan Kurikulum tingkat Madrasah Ibtidaiyah masih mengelompokkan muatan kurikulum dalam dua kelompok yaitu muatan nasional dan muatan lokal.

Muatan nasional mencakup mata pelajaran dan alokasi waktu yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) maupun Keputusan Menteri Agama (KMA) atau peraturan lain yang berlaku. Dalam hal ini berarti yang tercantum dalam KMA Nomor 184 Tahun 2019.

Mata Pelajaran tersebut dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok A dan kelompok B. Kelompok A adalah kelompok mata pelajaran yang muatan dan acuannya dikembangkan oleh pusat. Pada jenjang MI, mapel kelompok A meliputi:
  • Pendidikan Agama Islam
    • Al Qur'an Hadis
    • Akidah Akhlak
    • Fikih
    • Sejarah Kebudayaan Islam (diajarkan di kelas 3, 4, 5, dan 6)
  • Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
  • Bahasa Indonesia
  • Bahasa Arab
  • Matematika
  • Ilmu Pengetahuan Alam (diajarkan di kelas 4, 5, dan 6)
  • Ilmu Pengetahuan Sosial (diajarkan di kelas 4, 5, dan 6)

Mata Pelajaran Kelompok B  merupakan kelompok mata pelajaran yang muatan dan acuannya dikembangkan oleh pusat dan dapat dilengkapi dengan muatan/konten lokal. Pada jenjang MI, mapel kelompok B meliputi:
  • Seni Budaya dan Prakarya
  • Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
  • Muatan Lokal

Sedang muatan lokal merupakan mata pelajaran  yang berisi muatan dan proses pembelajaran tentang potensi dan keunikan lokal. Muatan lokal menjadi kekhasan atau keunggulan madrasah. MI dapat menyelenggarakan hingga tiga jenis mata pelajaran muatan lokal.
Muatan lokal di Madrasah Ibtidaiyah dapat berupa:
  • Tahfidz: kegiatan menghafal Alquran;
  • Tilawah: seni baca Alquran;
  • Seni Islami: qasidah, hadrah, dsb.;
  • Riset: penelitian ilmiah sederhana;
  • Bahasa/literasi: Bahasa Daerah, Bahasa Inggris, pengembangan Bahasa Arab, kegiatan literasi, dsb.;
  • Teknologi: Robotik, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), dsb.;
  • Pendalaman Sains: pendalaman IPA, pendalaman Matematika, dsb.;
  • Kekhasan madrasah, seperti: Aswaja (Ke-NU-an), Kemuhammadiyahan,
  • Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH), dsb.
  • Kekhasan madrasah khusus dalam naungan pondok pesantren, seperti: nahwu, sharaf, baca kitab, dsb.
Muatan lokal setiap tingkatan kelas bisa berbeda-beda jenisnya. Misal, muatan lokal di kelas 1 Bahasa Baerah dan Tahfidz, di kelas 2 TIK dan Tahfidz, di kelas 4 TIK, Tahfidz, dan Ke-NU-an, dsb.

Berdasarkan KMA Nomor 184 Tahun 2019, pengembangan implementasi kurikulum pada MI memungkinkan madrasah untuk menambah beban belajar atau alokasi jam pelajaran untuk mapel-mapel tertentu, merelokasi jam pelajaran tertentu (mengurangi dan menambahkan ke mapel lain), hingga menambahkan muatan lokal.

Baca : Struktur Kurikulum MI Simpatika 2017

Struktur Kurikulum Madrasah Ibtidaiyah


Struktur kurikulum disusun mengacu pada struktur kurikulum yang terdapat dalam KMA Nomor 184 Tahun 2019 sebagai berikut.

Mata Pelajaran Alokasi Waktu Perpekan
Kelompok A I II III IV V VI
1 Pendidikan Agama Islam
a. Al-Qur’an Hadis 2 2 2 2 2 2
b. Akidah Akhlak 2 2 2 2 2 2
c. Fikih 2 2 2 2 2 2
d. Sejarah Kebudayaan Islam - - 2 2 2 2
2 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 5 5 6 4 4 4
3 Bahasa Indonesia 8 9 10 7 7 7
4 Bahasa Arab 2 2 2 2 2 2
5 Matematika 5 6 6 6 6 6
6 Ilmu Pengetahuan Alam - - - 3 3 3
7 Ilmu Pengetahuan Sosial - - - 3 3 3
Kelompok B
1 Seni Budaya dan Prakarya* 4 4 4 5 5 5
2 Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 4 4 4 4 4 4
3 Muatan Lokal* - - - - - -
Jumlah 34 36 40 42 42 42

Struktur Kurikulum MI Berdasarkan KMA 184 Tahun 2019

Keterangan :
* Seni Budaya dan Prakarya dapat memuat Bahasa Daerah
** Muatan lokal dapat diisi dengan kearifan lokal atau mata pelajaran lain yang menjadi kekhasan/keunggulan madrasah terdiri atas maksimal tiga mata pelajaran dengan jumlah maksimal enam jam pelajaran.

Penambahan dan Relokasi Beban Belajar (Jam Pelajaran)


Seperti diulas di awal, pada KMA 184 Tahun 2019 maupun Keputusan Dirjen Pendis Nomor 6980 Tahun 2019 memberikan wewenang kepada Madrasah Ibtidaiyah untuk melakukan inovasi kurikulum madrasah dengan menambah dan merelokasi beban belajar atau alokasi jam pelajaran.

Total penambahan beban belajar yang diperbolehkan adalah maksimal enam jam pelajaran perpekan.

Ada beberapa alternatif inovasi kurikulum terkait jumlah beban belajar yang dimungkinkan, seperti:

1. Menambah pada jumlah mata pelajaran muatan lokal (hingga tiga muatan lokal) dengan total alokasi jam mapel 6 JTM.

Contoh struktur kurikulum MI dengan penambahan satu muatan lokal

Mata   Pelajaran Alokasi   Waktu Perpekan
Kelompok A I II III IV V VI
….
Kelompok B
….
3 Muatan Lokal* - - - - - -
a. Bahasa Daerah 2 2 2 2 2 2
Jumlah 36 38 42 44 44 44

Contoh struktur kurikulum MI dengan penambahan dua muatan lokal

Mata   Pelajaran Alokasi   Waktu Perpekan
Kelompok A I II III IV V VI
….
Kelompok B
….
3 Muatan Lokal* - - - - - -
a. Bahasa Daerah 2 2 2 2 2 2
b. TIK 2 2 3 4 4 4
Jumlah 38 40 45 48 48 48

Contoh struktur kurikulum MI dengan penambahan tiga muatan lokal

Mata   Pelajaran Alokasi   Waktu Perpekan
Kelompok A I II III IV V VI
….
Kelompok B
….
3 Muatan Lokal*
a. Tahfidz 4 4 2 2 2 2
b. Ke-NU-an 2 2 2 2 2 2
b. TIK 2 2 2 2
Jumlah 40 42 46 48 48 48

Jumlah mata pelajaran muatan lokal maksimal tiga mapel. Jumlah total penambahan beban belajar maksimal enam JTM.

2. Menambah beban belajar pada mata pelajaran kelompok A dan kelompok B dengan total alokasi jam mapel 6 JTM.

Mata Pelajaran Alokasi   Waktu Perpekan KET
Kelompok A I II III IV V VI
1 Pendidikan Agama Islam
a. Al-Qur’an Hadis 2 2 2 2 2 2
b. Akidah Akhlak 2 2 2 2 2 2
c. Fikih 2 2 2 2 2 2
d. Sejarah Kebudayaan Islam - - 2 2 2 2
2 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 5 5 6 4 4 4
3 Bahasa Indonesia 9 10 10 7 7 7 + 1 JP
4 Bahasa Arab 3 3 3 3 3 3 + 1 JP
5 Matematika 5 6 6 6 6 6
6 Ilmu Pengetahuan Alam - - - 5 5 5 + 2 JP
7 Ilmu Pengetahuan Sosial - - - 4 4 4 + 1 JP
Kelompok B
1 Seni Budaya dan Prakarya* 4 4 4 5 5 5
2 Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 4 4 4 4 4 4
3 Muatan Lokal* - - - - - -
a. Tahfidz 2 2 2 - - - + 2 JP
b. Ke-NU-an - - 2 2 2 2 + 2 JP
Jumlah 38 40 45 48 48 48
Jumlah Penambahan 4 4 5 6 6 6

2. Merekolasi (menambah dan mengurangi) beban belajar pada mata pelajaran kelompok A dan kelompok B.

Mata Pelajaran Alokasi Waktu Perpekan KET
Kelompok A I II III IV V VI
1 Pendidikan Agama Islam
a. Al-Qur’an Hadis 2 2 2 2 2 2
b. Akidah Akhlak 2 2 2 2 2 2
c. Fikih 2 2 2 2 2 2
d.   Sejarah Kebudayaan Islam - - 2 2 2 2
2 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 5 5 6 4 4 4
3 Bahasa Indonesia 9 10 10 7 7 7 + 1 JP
4 Bahasa Arab 3 3 3 3 3 3 + 1 JP
5 Matematika 5 6 6 6 6 6
6 Ilmu Pengetahuan Alam - - - 5 5 5 + 2 JP
7 Ilmu Pengetahuan Sosial - - - 4 4 4 + 1 JP
Kelompok B
1 Seni Budaya dan Prakarya* 4 4 4 4 4 4 - 1 JP
2 Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 4 4 4 4 4 4
3 Muatan Lokal* - - - - - -
a. Tahfidz 2 2 2 - - - + 2 JP
b. TIK - - 2 2 2 2 + 2 JP
Jumlah 38 40 45 47 47 47
Jumlah Penambahan 4 4 5 5 5 5

Struktur Kurikulum MI Berdasarkan KMA 184 Tahun 2019

Sebagaimana Ayo Madrasah kutib dari KMA Nomor 184 Tahun 2019 Bab III Poin A, Inovasi yang dilakukan madrasah dimuat dalam Dokumen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) madrasah bersangkutan dan mendapatkan persetujuan dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten/ Kota.

Penambahan beban belajar hingga sebanyak-banyaknya enam jam pelajaran tersebut didasarkan pada pertimbangan kebutuhan peserta didik, akademik, sosial, budaya, dan ketersediaan waktu. Tujuannya demi meningkatkan mutu pendidikan, bukan karena pertimbangan kekurangan atau kelebihan guru. Apalagi sekedar untuk pemenuhan beban kerja guru bersertifikat pendidik.

Untuk lebih memahami terkait struktur kurikulum di Madrasah Ibtidaiyah, silakan cermati KMA Nomor 184 Tahun 2019 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum Pada Madrasah dan SK Dirjen Pendis Nomor 6980 Tahun 2019 tentang Juknis Penyusunan Kurikulum tingkat Madrasah Ibtidaiyah. Kedua regulasi tersebut dapat diunduh di artikel Ayo Madrasah terdahulu yaitu:
Sehingga struktur kurikulum yang digunakan di Madrasah Ibtidaiyah yang bersangkutan akan sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan mampu mengakomodasi kekhasan madrasah masing-masing. Tanpa melanggar regulasi yang telah ditetapkan.

Jumat, 03 Juli 2020

Kurikulum Mapel Ke-NU-an 2020 LP Maarif Jawa Tengah

Pengurus Wilayah Lembaga Pendidikan Maarif NU Jawa Tengah, tahun 2020 ini, merilis Kurikulum Mata Pelajaran Ke-NU-an. Kurikulum yang berlaku bagi jenjang pendidikan mulai SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, hingga MA/MAK ini memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Kompetensi Inti (KI), dan Kompetensi Dasar (KD) mapel Ke-NU-an.

Tentunya, kurikulum mata pelajaran Ke-NU-an ini berlaku bagi sekolah dan madrasah di lingkungan LP. Maarif NU Jawa Tengah.

Kurikulum Mapel Ke-NU-an

Kurikulum yang akan mulai diberlakukan pada tahun pelajaran 2020/2021 ini telah disesuaikan dengan regulasi terbaru baik dari Kemenag maupun Kemdikbud. Salah satunya adalah KMA Nomor 184 tahun 2019 Tentang Pedoman Implementasi Kurikulum pada Madrasah.

Baca : Kalender Pendidikan Madrasah Jawa Tengah 2020-2021 [Excel & Pdf]

Kurikulum tersebut tertuang dalam dalam Keputusan PW. LP. Maarif Nu Jawa Tengah Nomor 014/PW.11/LPMNU/SK/I/2020 tentang Kurikulum Mata Pelajaran Ke-NU-an. File lengkap SK ini dalam format PDF dapat diunduh di bagian akhir artikel ini.

Mata Pelajaran Ke-NU-an


Ke-NU-an adalah mata pelajaran yang menekankan pada pembentukan peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berakhlakul karimah sesuai dengan prinsip dasar ajaran Ahlussunnah wal Jamaah NU.

Mata pelajaran ini diajarkan di sekolah dan madrasah di lingkungan Lembaga Pendidikan Maarif NU. Untuk jenjang Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah diajarkan di kelas 4 hingga 6, sedangkan untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah diajarkan di semua tingkat kelas. Demikian juga pada jenjang Sekolah Menengah Atas, Madrasah Aliyah, dan Sekolah Menegah Kejuruan.

Alokasi waktu pembelajarannya adalah minimal dua jam pelajaran perminggunya.

Baca : Logo dan Tema Harlah Ke-97 NU (Vector, Png, Jpg)

Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Mapel Ke-Nu-an


Pada mata pelajaran Ke-NU-an, lulusan diharapkan memiliki sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dirumuskan dalam Kompetensi Lulusan Mapel Ke-NU-an. Ini baik SKL untuk SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK.

1. Kompetensi Lulusan MI/SD, sebagai berikut:
  • Dimensi Sikap, memiliki kualifikasi kemampuan: Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman, berakhlakul karimah sesuai dengan ajaran ahlussunnah waljamaah NU, berilmu, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam di lingkungan rumah, dan tempat bermain.
  • Dimensi pengetahuan, memiliki kualifikasi kemampuan: Memiliki pengetahuan faktual dan konseptual berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya ahlussunnah waljamaah NU dalam wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait fenomena dan kejadian di lingkungan rumah, dan tempat bermain sesuai dengan ajaran Aswaja NU.
  • Dimensi Keterampilan, memiliki kualifikasi kemampuan: Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang produktif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sesuai dengan ajaran ahlussunnah waljamaah NU yang ditugaskan kepadanya.

2. Kompetensi Lulusan MTs/SMP, sebagai berikut:
  • Dimensi Sikap, memiliki kualifikasi kemampuan: Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman, berakhlakul karimah sesuai dengan ajaran ahlussunnah waljamaah NU, berilmu, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial (nyata dan maya), pesantren, alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya 
  • Dimensi pengetahuan, memiliki kualifikasi kemampuan: Memiliki pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya ahlussunnah waljamaah NU dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan,dan peradaban terkait fenomena dan kejadian yang tampak mata sesuai dengan ajaran Aswaja NU
  • Dimensi pengetahuan, memiliki kualifikasi kemampuan: Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang produktif, efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sesuai dengan ajaran ahlussunnah waljamaah NU yang dipelajari di madrasah/sekolah, dan sumber lain

3. Kompetensi Lulusan SMA/MA/SMK, sebagai berikut:
  • Dimensi Sikap, memiliki kualifikasi kemampuan: Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman, berakhlak karimah sesuai denga ajaran ahlussunnah waljamaah NU, berilmu, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial, alam (nyata dan maya), pesantren dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
  • Dimensi pengetahuan, memiliki kualifikasi kemampuan: Memiliki pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya sesuai dengan ajaran ahlussunnah waljamaah NU dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian sesuai denga ajaran ahlussunnah waljamaah NU.
  • Dimensi pengetahuan, memiliki kualifikasi kemampuan: Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang produktif efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sesuai dengan ajaran ahlussunnah waljamaah NU sebagai pengembangan dari yang dipelajari di madrasah/sekolah secara mandiri.

Baca : Kumpulan Bingkai Foto Profil Hari Santri Nasional

Standar Isi Mapel Ke-NU-an


Standar Isi mata pelajaran Ke-NU-an disesuaikan dengan substansi tujuan pendidikan nasional dalam domain sikap spritual dan sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan.

Ruang lingkup Mata Pelajaran Ke-NU-an meliputi: Aqidah/Tauhid, Fiqih, Tasawuf, Sejarah Peradaban Islam di Indonesia, Amaliah Ahlussunah waljamaah NU, dan Organisasi keNU-an.

Kompetensi Inti (KI) terbagi dalam empat kelompok yaitu Kompetensi Inti Sikap Spiritual (KI-1), Sikap Sosial (KI-2), Pengetahuan (KI-3), dan Keterampilan (KI-4). Masing-masing KI dijabarkan melalui beberapa Kompetensi Dasar (KD).

Sebagai contoh, Standar Isi untuk MI/SD Kelas 4 Semester 1 adalah sebagai berikut:

  • KI-1. Menerima, menjalankan dan menghargai ajaran yang dianutnya
    • 1.1. Meyakini akidah Aswaja melalui pemahaman aqaid 50 (seket)
    • 1.2. Menghayati sejarah singkat Jam’iyah Nahdlatul Ulama
    • 1.3. Menghayati lambang NU dan artinya
    • 1.4. Menghargai peran Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari sebagai ulama Ahlussunnah Waljamaah dan pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama
    • 1.5. Menghayati Mars Syubanul Wathan dan Shalawat Nahdliyah
  • KI-2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, tetangganya, guru dan kiai.
    • 2.1. Menunjukkan sikap jujur dan tanggung jawab melafalkan aqaid 50 (seket)
    • 2.2. Memiliki rasa cinta terhadap Jam’iyah Nahdlatul Ulama
    • 2.3. Memiliki rasa percaya diri dan bangga terhadap lambang NU
    • 2.4. Menunjukkan sikap tanggung jawab sebagaimana yang dicontohkan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari sebagai ulama Ahlussunnah Waljamaah dan pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama
    • 2.5. Menunjukkan sikap percaya diri dalam menyanyikan Mars Subbanul Wathan dan Shalawat Nahdliyah
  • KI-3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah/madrasah dan tempat bermain.
    • 3.1. Memahami aqaid 50 (seket) sebagai dasar akidah Ahlussunnah Waljamaah.
    • 3.2. Memahami sejarah singkat Jam’iyah Nahdlatul Ulama
    • 3.3. Memahami lambang NU dan artinya
    • 3.4. Memahami sosok dan peran Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari sebagai ulama Ahlussunnah Waljamaah dan pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama
    • 3.5. Memahami Mars Syubbanul Wathan dan Shalawat Nahdliyah
  • KI-4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia
    • 4.1. Mendemonstrasikan hafalan aqaid 50 (seket)
    • 4.2. Menceritakan sejarah singkat Jam’iyah Nahdlatul Ulama
    • 4.3. Menggambarkan lambang NU dan artinya
    • 4.4. Menceritakan secara lisan/tulis sosok dan peran Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari sebagai ulama Ahlussunnah Waljamaah dan pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama
    • 4.5. Menyanyikan Mars Syubanul Wathan dan Shalawat Nahdliyah

Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar selengkapnya untuk masing-masing tingkat kelas dan jenjang, silakan dibaca dalam lampiran 3 Keputusan PW. LP. Maarif Nu Jawa Tengah Nomor 014/PW.11/LPMNU/SK/I/2020 tentang Kurikulum Mata Pelajaran Ke-NU-an. Filenya dapat didownload di bagian akhir artikel ini.

Baca Juga :

Download Kurikulum Ke-NU-an 2020


Keputusan PW. LP. Maarif Nu Jawa Tengah Nomor 014/PW.11/LPMNU/SK/I/2020 tentang Kurikulum Mata Pelajaran Ke-NU-an ini dilengkapi dengan lampiran-lampiran sebagai berikut:
  • Lampiran 1 Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Mata Pelajaran Ke-NU-an
  • Lampiran 2 Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Mata Pelajaran Ke-NU-an
  • Lampiran 3 Standar Isi Mata Pelajaran Ke-NU-an

Untuk itu, bagi sekolah dan madrasah di Jawa Tengah yang berada di lingkungan LP Maarif NU silakan untuk mengunduh Kurikulum Mata Pelajaran Ke-NU-an Tahun 2020 melalui LINK INI (815 KB)

Karena kurikulum ini diterbitkan pada awal 2020 dan mulai berlaku pada tahun pelajaran 2020/2021, tentunya ini akan menggantikan kurikulum yang digunakan sebelumnya. Karenanya sekolah atau madrasah terutama guru pengampu mata pelajaran Ke-NU-an untuk menggunakan dan mempedomani keputusan tentang Kurikulum Mapel Ke-NU-an 2020 LP Maarif Jawa Tengah ini.

Kamis, 02 Juli 2020

Contoh Poster Protokol Kesehatan di Sekolah

Untuk menyambut tahun pelajaran baru, 2020/2021, dimana akan dimulai saat pandemi covid-19 masih belum berakhir, Ayo Madrasah menyiapkan beberapa contoh poster protokol kesehatan di sekolah. Poster-poster ini terkait dengan cara cuci tangan pakai sabun (CTPS) yang benar, penggunaan masker kain, jaga jarak antar siswa, dan berbagai ketentuan terkait dengan protokol kesehatan yang harus dilakukan di sekolah atau madrasah.

Untuk sementara, tersedia dua jenis poster. Pertama adalah poster tentang protokol kesehatan di sekolah secara umum. Kedua adalah poster tentang cuci tangan memakai sabun.

Poster Protokol Kesehatan di Sekolah

Kedua hal ini menjadi hal yang krusial saat proses belajar mengajar di madrasah berlangsung saat pandemi  covid-19 ini. Pihak madrasah harus senantiasa memperingatkan siswa-siswinya untuk mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan termasuk tata cara mencuci tangan dengan memakai sabun dan air mengalir secara benar.

Sehingga bagi madrasah yang memberlakukan pembelajaran secara tatap muka akan dapat resiko penyebaran virus covid-19 di lingkungan madrasah dapat diminimalisir. Jangan sampai kegiatan belajar mengajar justru menjadikan madrasah sebagai kluster baru persebaran covid-19.

Baca : Kapan Sekolah/Madrasah Mulai Masuk Tahun 2020/2021?

Poster lainnya akan diupdate di kemudian hari.

Poster Protokol Kesehatan


Poster pertama adalah terkait protokol kesehatan di madrasah. Poster ini mengajak siswa-siswi untuk membudayakan empat hal selama di sekolah atau madrasah.

Pertama, selalu memakai masker kain dan atau faceshield. Kedua membiasakan mencuci tangan memakai sabun dan air mengalir setiap kali masuk ke lingkungan sekolah atau kelas dan setiap pulang (meninggalkan) madrasah. Ketiga anjuran melakukan jaga jarak sedikitnya 1,5 meter. Dan keempat peringatan untuk membawa barang dan perlengkapan sendiri dan tidak meminjam kepada temannya. Baik untuk perlengkapan sekolah (buku, pensil, dll), maupun perlengkapan lain seperti tempat minum dan makanan.

Poster tersebut adalah sebagai berikut.


Dengan warna kuning dan dilengkapi ilustrasi warna-warni, poster ini dapat dipasang di berbagai area madrasah seperti di ruang kelas, lorong sekolah, maupun tempat-tempat strategis lainnya.

Baca : Panduan Pembelajaran Tahun Ajaran Baru di Masa Covid-19

Poster Cuci Tangan Pakai Sabun


Poster kedua adalah tentang gerakan mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir. Dilengkapi dengan ilustrasi tentang enam langkah mencuci tangan. Cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir selama 60 detik akan dapat membunuh kuman dan virus. Termasuk virus covid-19.

Sehingga budaya mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir harus diterapkan secara ketat di lingkungan sekolah dan madrasah.

Poster tersebut adalah sebagai berikut.


Poster cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir ini sebenarnya merupakan poster Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang dimodifikasi. Tentunya agar lebih bersifat khusus dan tepat untuk dipasang di lingkungan madrasah.

Baca : SK Dirjen Pendis Tentang Kurikulum Darurat Madrasah

Sekolah Harus Selalu Mengingatkan Protokol Kesehatan


Pihak sekolah atau madrasah harus senantiasa mengingatkan warga sekolah untuk melaksanakan protokol kesehatan. Sebagaimana salah satu isi SKB 4 Menteri tentang Penyelenggaraan tahun Ajaran 2020/2021 Saat Pandemi Covid-19, sekolah harus memberikan pengumuman di seluruh area satuan pendidikan secara berulang dan intensif terkait penggunaan masker, cuci tangan pakai sabun (CTPS), dan jaga jarak.

Pengumuman ini selain disampaikan secara lisan kepada para siswa tentu akan lebih efektif lagi jika disampaikan juga secara visual. Salah satunya adalah dengan memasang poster-poster terkait protokol kesehatan dan covid-19 di lokasi-lokasi strategis di lingkungan sekolah.

Itulah beberapa contoh poster terkait dengan protokol kesehatan di sekolah yang dapat dijadikan inspirasi. Contoh poster protokol kesehatan di sekolah inipun dapat dicetak langsung untuk dipasang di lingkungan sekolah dan madrasah.

Selasa, 30 Juni 2020

Perubahan Ke-1 & Ke-2 Juknis BOS Madrasah & BOP RA 2020

Dalam beberapa bulan terakhir, Ditjen Pendis Kemenag telah menerbitkan dua perubahan atas Juknis BOP RA dan BOS Madrasah Tahun Anggaran 2020. Perubahan pertama Juknis BOP dan BOS diteken pada 27 Maret 2020. Sedang perubahan kedua, pada 2 Juni 2020.

Petunjuk Teknis BOS Madrasah dan BOP RA Tahun 2020 sebelumnya diatur melalui Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 7330 Tahun 2020 Tentang Petunjuk Teknis Bantuan Operasional Pendidikan Pada Raudlatul Athfal dan Bantuan Operasional Sekolah Pada Madrasah Tahun Anggaran 2020.

Revisi Juknis BOP BOS 2020

Berselang tiga bulan kemudian keluarkanlah Keputusan Dirjen Pendis Nomor 1801 Tahun 2020 tentang Perubahan Atas Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 7330 Tahun 2020 Tentang Petunjuk Teknis Bantuan Operasional Pendidikan Pada Raudlatul Athfal dan Bantuan Operasional Sekolah Pada Madrasah Tahun Anggaran 2020.

Pada perubahan ini terdapat penambahan ruang lingkup komponen pembiayaan BOP RA dan BOS Madrasah dalam rangka upaya pencegahan penyebaran pandemi covid-19 di RA ataupun madrasah.

Awal Juni 2020, kembali terbit SK Dirjen Pendis Nomor 2971 Tahun 2020 tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 7330 Tahun 2020 Tentang Petunjuk Teknis Bantuan Operasional Pendidikan Pada Raudlatul Athfal dan Bantuan Operasional Sekolah Pada Madrasah Tahun Anggaran 2020.

Revisi Juknis BOP RA dan BOS Madrasah 2020 ini cukup singkat karena hanya merevisi satuan biaya BOP/BOS.

Perubahan Pertama, SK Dirjen No. 1801 Tahun 2020


Terbitnya SK Dirjen No. 1801 Tahun 2020, menjadi angin segar bagi RA dan Madrasah di tengah pandemi covid-19. Ditjen Pendis, melalui regulasi ini, menambahkan komponen-komponen pembiayaan yang bisa dibiayai dengan menggunakan BOP dan BOS (Bab IV Penggunaan Dana). Komponen-komponen tersebut terutama terkait dengan usaha pencegahan pendemi Covid-19 sehingga RA dan Madrasah dapat menjalankan protokol kesehatan di sekolah dengan baik.

Pada Bab IV Bagian A (Ketentuan Umum), ditambahkan poin ke-6 sebagai berikut: Penggunaan dana BOP/BOS untuk membiayai pencegahan penyebaran virus covid-19 terdiri dari 2 (dua) komponen pembiayaan sebagaimana ditetapkan dalam Petunjuk Teknis ini.

Pada Bab IV Bagian B (Ruang Lingkup Komponen Pembiayaan) ditambahkan komponen ketiga yang berbunyi: Selain ruang hngkup Komponen Pembiayaan BOP RA dan BOS Madrasah sebagaimana dimaksud pada angka 1 dan 2 di atas, dalam rangka upaya Pencegahan Penyebaran Pandemi COVID-19 pada RA dan Madrasah, ruang lingkup Komponen Pembiayaan BOP dan BOS dapat digunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan, di antaranya:

1. Pembelian/sewa sarana/ perlengkapan/ peralatan atau pelaksanaan kegiatan yang diperlukan untuk mencegah penyebaran COVID-19:

  • pembelian sabun cuci tangan, anti septic, masker, dan sarana lainnya yang dapat menunjang pencegahan penyebaran COVID-19
  • pengadaan bahan kimia lainnya yang berfungsi untuk pencegahan penyebaran COVID-19
  • biaya transportasi dan honor bagi petugas kesehatan/petugas lain yang kompeten dalam rangka melakukan kegiatan pencegahan penyebaran COVID-19
  • membiayai sewa peralatan untuk kegiatan pencegahan penyebaran COVID-19 
  • membiayai kegiatan lain yang dapat menunjang upaya pencegahan penyebaran COVID-19

2. Pembelian/sewa saran/perlengkapan/peralatan yang diperlukan untuk mendukung keberlangsungan proses belajar-mengajar

  • penambahan alokasi kuota internet bagi RA/ Madrasah yang memakai fixed-modem atau paket internet lainnya yang dapat menunjang pembelajaran jarak jauh.
  • Pembelin/sewa mobile modem (termasuk kuota internet berupa USB modem atau paket data yang diperuntukkan bagi guru dengan jumlah modem dan paket data internet sesuai dengan kebutuhan
  • Pembelin/sewa mobile modem (termasuk kuota internet berupa USB modem bagi siswa tidak mampu sesuai dengan kebutuhan
  • Pembelian laptop atau personal computer sebatas untuk keperluan server e-learning implementasikan oleh RA/ Madrasah.
  • Pengadaan bahan alat pendukung e-learning pada mata pelajaran matematika

Dengan bisa dibiayainya kegiatan-kegiatan terkait penanganan Covid-19, ini tentu sejalan dengan SKB 4 Menteri Tentang Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19 dan Surat Keputusan Ditjen Pendidikan Islam Nomor 2791 Tahun 2020 ini sebagai panduan penyelenggaraan pendididikan dan pembelajaran di madrasah pada masa darurat pandemi covid-19 (corona). Baca: Kurikulum Darurat Madrasah

SK Dirjen No. 1801 Tahun 2020 tentang Revisi I Juknis BOP RA dan BOS Madrasah dapat diunduh di akhir artikel ini.

Perubahan Kedua, SK Dirjen No. 2971 Tahun 2020


Awal Juni 2020, Direktur Jenderal Pendidikan Islam kembali menerbitkan regulasi SK Dirjen No. 2971 Tahun 2020 tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 7330 Tahun 2020 Tentang Petunjuk Teknis Bantuan Operasional Pendidikan Pada Raudlatul Athfal dan Bantuan Operasional Sekolah Pada Madrasah Tahun Anggaran 2020.

Berbeda dengan perubahan pertama, pada perubahan kedua cukup singkat. Regulasi ini hanya memuat selembar lampiran yang khusus mervisi Bab I Hal Pendahuluan Huruf C Angka 3, satuan biaya BOP/BOS 2020.

Berdasarkan perubahan kedua Juknis BOP dan BOS ini besarnya satuan biaya BOP/BOS dirubah sebagai berikut:

  • RA semula Rp. 600.000 / siswa / tahun diubah menjadi Rp. 400.000.
  • MI semula Rp. 900.000 / siswa / tahun diubah menjadi Rp. 800.000.
  • MTs semula Rp. 1.100.000 / siswa / tahun diubah menjadi Rp. 1.000.000.
  • MA & MAK semula Rp. 1.500.000 / siswa / tahun diubah menjadi Rp. 1.400.000.


Jika pada perubahan pertama memberi angin segar pada RA dan Madrasah dalam mengelola penggunaan dana BOP dan BOS, pada perubahan kedua ini sebaliknya.

Dengan menurunkan satuan biaya BOP sebesar Rp. 200.000 persiswa / tahun tentu menjadi berita buruk bagi semua RA se-Indonesia. Pun dengan madrasah (MI, MTs, MA, dan MAK)  yang mengalami penurunan Rp. 100.000 persiswa /tahun.

Juknis ini dipertegas dengan Surat Edaran Ditjen Pendis Nomor B-1134.3/DJ.I/Dt.I.I/PP.00/06/2020 tertanggal 25 Juni 2020.

Pada poin ketiga surat edaran tersebut disebutkan, Untuk Penyaluran Dana BOP-RA dan BOS Madrasah Tahap II (Periode Juli-Desember 2020) dihitung berdasarkan Jumlah unit cost / siswa sebagaimana dimaksud pada point 2 di atas dikurangi dengan jumlah unit cost / siswa yang sudah dicairkan pada Tahap I.

Artinya jika pada pencairan tahap I kemarin sebuah MI telah menerima dana BOS 450 ribu persiswa, maka pada tahap kedua nanti hanya akan menerima 350 ribu saja (Rp. 800.000 - Rp. 450.000 = Rp. 350.000). Untuk jenjang RA makin parah karena setelah dicairkan BOP Tahap I (Rp. 300.000 persiswa) maka dengan besar satuan biaya yang diturunkan menjadi Rp. 400.000, maka RA hanya akan menerima Rp. 100.000 persiswanya.

SK Dirjen No. 2971 Tahun 2020 tentang Revisi II Juknis BOP RA dan BOS Madrasah dapat diunduh di akhir artikel ini.

Download Perubahan I & II Juknis BOP dan BOS


Keterangan tentang isi perubahan di atas Ayo Madrasah ambil dari kedua regulasi tentang perubahan Juknis BOP dan BOS.

Sehingga bagi RA, Madrasah, dan pemangku kepentingan lainnya, silakan membaca dan mempelajari dengan seksama SK Dirjen Nomor 1801 dan 2971 Tahun 2020 tentang Perubahan I dan Perubahan II Juknis BOP RA dan BOS Madrasah Tahun Anggaran 2020.

Untuk itu sila unduh SK Dirjen Nomor 1801 dan 2971 Tahun 2020 melalui LINK BERIKUT

Untuk Juknis BOP RA dan BOS Madrasah Tahun Anggaran 2020 (SK Ditjen Pendis No. 7330 Tahun 2020), sila unduh di: Juknis BOP RA dan BOS Madrasah Tahun 2020

Itulah hal-hal terkait dengan perubahan pada juknis BOP RA dan BOS Madrasah 2020. Silakan di cermati dan dipedomani Perubahan Ke-1 & Ke-2 Juknis BOS Madrasah & BOP RA 2020 ini.

Jumat, 26 Juni 2020

Panduan Matsama 2020 Saat Pandemi Covid-19

Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, menerbitkan Panduan Pelaksanaan Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (MATSAMA) tahun 2020. Panduan ini menjadi sedikit berbeda, karena Matsama atau masa orientasi dan pengenalan lingkungan madrasah kepada siswa baru ini akan berlangsung dalam masa pandemi Covid-19.

Diperkirakan saat awal tahun pelajaran 2020/2021, sebagian besar wilayah Indonesia masih berstatus zona kuning, oranye, dan merah. Sehingga sebagaimana ketetapan dalam SKB 4 Menteri Tentang Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19, sekolah dan madrasah dilarang melaksanakan pembelajaran tatap muka.

Panduan Matsama 2020

Jika dilarang membuka madrasah dan menyelenggarakan pembelajaran tatap muka, kemudian bagaimana Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (MATSAMA) tahun 2020 akan dilaksanakan?

Setiap tahun ajaran baru, proses pembelajaran di lingkungan Madrasah pada semua jenjang, mulai dari tingkat Raudlatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyyah (MI) sampai dengan Madrasah Aliyah (MA) selalu diawali MATSAMA. MATSAMA, singkatan dari Masa Ta’aruf Siswa Madrasah, adalah masa orientasi atau pengenalan mengenai lingkungan Madrasah kepada peserta didik baru. Melalui Matsama, diharapkan para peserta didik baru akan dikenalkan mengenai sistem pembelajaran, ciri khas, karakter dan budaya yang ada di lingkungan madrasah.

Sehingga keberadaan dari MATSAMA ini akan turut menentukan berhasil atau tidaknya seluruh proses pembelajaran di madrasah pada masa selanjutnya.

kegiatan MATSAMA ini tidak lepas dari motto Direktorat Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan Madrasah, Dirjend Pendidikan Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia, yaitu mencetak generasi “Hebat dan Bermartabat”; generasi yang tidak hanya cerdas secara akal, tetapi juga matang secara spiritual dan berkarakter ke-Indonesia-an.

Baca: Kapan Sekolah/Madrasah Mulai Masuk Tahun 2020/2021?

MATSAMA Nuansa Pandemi Covid-19


Namun pada tahun ajaran 2020/2021, Indoneia masih belum bebas dari pandemi Covid-19. Yang mana pola pelaksanaan Matsama pun harus mengalami beberapa penyesuaian sesuai dengan standar protokol kesehatan di sekolah yang telah ditetapkan pemerintah.

Sehingga, dalam Panduan Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (MATSAMA) tahun 2020, pelaksanaan MATSAMA 2020 akan dibagi dalam tiga model, yaitu:

  • Melalui tatap muka: bagi Madrasah dan peserta didik yang berada di “zona hijau” atau bebas Covid-19 berdasarkan informasi/ketentuan pemerintah
  • Melalui Virtual atau Penugasan: bagi Madrasah atau peserta didik yang berada di wilayah “zona merah, oranye dan kuning” Covid-19 dan memiliki akses jaringan internet
  • Pendampingan: bagi Madrasah atau peserta didik yang berada di “zona merah, oranye dan kuning” tetapi tidak ada atau minim akses jaringan internet.


Selain itu, sejumlah ketentuan lain dalam menyelenggarakan Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (MATSAMA) tahun 2020 diantaranya pelarangan pelibatan kakak kelas (senior) dan alumni sebagai penyelenggara, tidak mengarah pada bentuk perpeloncoan dan tindak kekerasan, pelarangan kegiatan dan penggunaan atribut yang tidak relevan dengan aktivitas pembelajaran, serta tidak boleh melakukan pemungutan biaya.

Terkait atribut yang dilarang digunakan dalam pelaksanaan Matsama, mengacu pada Lampiran III Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah Bagi Siswa Baru.

Materi dalam Matsama Tahun 2020 terdiri atas materi umum kemadrasahan seperti sejarah, tata tertib, struktur, tenaga dan tenaga kependidikan, peserta didik, jurusan atau konsentrasi, kegiatan belajar mengajar, kegiatan dan organisasi kesiswaan, dan prestasi dan alumni madrasah.

Juga materi karakter moderasi beragama dan kebangsaan yang dapat mengacu pada buku modul “Membangun Karakter Moderat”. Untuk jenjang Raudlatul Athfal meliputi toleransi dan akhlakul karimah. Untuk jenjang Madrasah Ibtidaiyah meliputi keragaman dan prinsip kemajemukan. Untuk jenjang Madrasah Tsanawiyah meliputi kesetaraan dan anti diskriminasi. Serta untuk jenjang Madrasah Aliyah meliputi ukhuwah islamiyah, ukhuwah basyariyah, ukhuwah wathoniyah, bernalar kritis, dan berjiwa kompetitif.

Madrasah dapat juga menambahkan dengan materi khusus sesuai keunikan dan kekhasan madrasah seperti program robotik, program riset, program keterampilan, dan lainnya yang terdapat di madrasah.

Baca: Panduan Pembelajaran Tahun Ajaran Baru di Masa Covid-19

Download Panduan Matsama Tahun 2020


Untuk mempelajari dan memahami lebih lanjut terkait pelaksanaan Masa Ta’aruf Siswa Madrasah, silakan unduh Surat Edaran Ditjen Pendidikan Islam Kemenag Nomor B.1072/DJ.I/Dt.I.I/PP.00/06/2020 perihal Pelaksanaan Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (Matsama) tahun 2020.

Surat telah dilengkapi dengan Panduan Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (Matsama) Tahun Pelajaran 2020/2021. Juga lampiran tentang Konten Materi Matsama 2020/2021 dan Desain Acara Matsama Tahun Pelajaran 2020/2021.

Untuk mengunduh dokumen tersebut, silakan UNDUH DI SINI (PDF, 572 KB)

Meski dalam masa pandemi Covid-19 yang mengakibatkan lembaga pendidikan, termasuk madrasah, harus melakukan berbagai penyesuaian, Matsama tahun 2020 memang harus tetap digelar. Karena Pengenalan Lingkungan Sekolah Bagi Siswa Baru ini bermanfaat untuk mengenalkan lingkungan, nilai, dan karakter madrasah.

Untuk itu, semua pihak tentunya dapat menggunakan Panduan Matsama 2020 Saat Pandemi Covid-19 ini dengan baik sehingga tujuan kegiatan dapat berhasil dengan baik, meski di tengah keterbatasan akibat pandemi Covid-19.